KMTM KOPROL: Teknologi, sebuah Inovasi atau Invasi?

Teknologi berkembang pesat seiring berjalannya waktu. Sifat manusia yang tidak pernah puas, hingga semakin mudahnya sarana untuk mempelajari sesuatu membuat perkembangan teknologi menjadi suatu hal yang tidak dapat terbendung. Teknologi saat ini banyak mempermudah manusia dan segala urusannya. Bagaimana Online Shop membuat para pelanggan tidak perlu datang ke toko untuk mendapatkan barang pesanannya, hingga setiap orang tidak dapat jauh dari Smartphone walau hanya sehari menunjukan bahwa teknologi sangat mempengaruhi kehidupan saat ini. Teknologi memang membuat banyak kebermanfaatan bagi manusia, namun layaknya dua sisi mata pisau dampak negatif yang dapat tercipta dari perkembangan teknologi saat ini.

James Watt memerlukan waktu 20 tahun untuk mempelajari mesin Newcomen. Hasil pembelajaran tersebut ia simpulkan dalam sebuah gagasan penting, mengkonversi sebuah gerakan bolak balik menjadi gerakan putar. Gagasan yang berperan besar dalam peningkatan kapasitas produksi, hingga mampu meningkatkan pendapatan perkapita negara negara di dunia. Mesin Uap  mengawali sebuah fenomena “industrialise” (Awal mula penggunaan istilah “Revolusi Industri” ditemukan dalam surat oleh seorang utusan Perancis bernama Louis-Guillaume Otto pada tanggal 6 Juli 1799, di mana dia menuliskan bahwa Perancis telah memasuki era industrialise. Dalam buku terbitan tahun 1976 yang berjudul : Keywords: A Vocabulary of Culture and Society, Raymond Williams menyatakan bahwa kata itu sebagai sebutan untuk istilah “industri”) sebuah peralihan dari tenaga hewan atau manusia menuju penggunaan mesin yang berbasis manufaktur. Setelah penemuan mesin uap ini, manusia seolah tidak ingin berhenti untuk berinovasi. Industri manufaktur semakin berkembang dengan pengadopsian terhadap teknologi secara luas. Selain itu, periode ini menghasilkan sistem teknologi baru berupa listrik dan telepon. Peristiwa elektrifikasi yang menandai sebuah Revolusi Teknologi, atau lebih familiar dengan Revolusi Industri kedua. Hal itu terus berlanjut hingga sebuah Revolusi Digital terjadi. Revolusi Industri ketiga, begitu orang orang menamai Revolusi Digital ini, hadir dengan peran besar Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT) yang semakin berkembang. Perkembangan ICT mampu menjadi aktor penting dalam peralihan Industri manufaktur menjadi bisnis digital.

 

Industry_4.0

Sumber: Wikipedia

Saat ini Revolusi itu terus berlanjut, memasuki jilid keempatnya. Fenomena Revolusi Industri 4.0, menurut Airlangga Hartanto (Menteri Perindustrian Indonesia), membuka peluang untuk merevitalisasi kembali industri manufaktur, meningkatkan produktifitas pekerja, mendorong ekspor netto dan menciptakan lapangan kerja baru untuk mencapai Indonesia dengan perekonomian 10 besar dunia. Pemerintah Indonesia saat ini berkomitmen untuk membangun industri manufakturnya yang memiliki kecenderungan menurun dalam beberapa tahun terakhir dengan adanya perubahan ekonomi berbasis jasa. Komitmen tersebut tergambarkan dengan lima sektor manufaktur yang menjadi fokus pembangunan pemerintah: kecerdasan buatan (AI), Internet of Things (IoT), wearables, robotika canggih dan 3D printings.

Namun, coba kita melihat fenomena saat ini. Setiap orang tidak perlu datang ke suatu bank untuk menarik atau menaruh sejumlah uang di rekening. Teknologi Finansial yang saat ini ada, memungkinkan setiap orang untuk bertransaksi di mesin mesin atm atau melalui SmartPhone mereka sekalipun. Hal itu berdampak pada jumlah kantor bank yang berkurang seiring berjalannya waktu. Akibatnya? Sudah jelas banyak pegawai bank yang harus terlempar dari pekerjaanya tersebut. Ini baru satu perkerjaan, padahal masih banyak berbagai macam fakta yang menunjukan bahwa banyak pekerjaan yang terancam dari kehadiran teknologi saat ini. Padahal Indonesia akan dilewati masa Bonus Demografi dimana 10 orang berusia produktif (15-65 tahun) “hanya” menanggung 4-5 orang berusia non produktif (<15 tahun atau >65 tahun) pada tahun 2015-2035. Pada tahun 2015 saja,  penduduk Indonesia yang tercatat berdasarkan data Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) berjumlah 255.182.144 jiwa, dengan 150-175 juta jiwa masih berusia produktif. Sebuah hal yang menguntungkan tentunya, jika jumlah yang sangat besar ini dapat  meningkatan produktivitas dalam negeri dan sudah tentu harus dibersamai dengan ketersediaan lapangan perkerjaan. Dr. Sugiarto Sumas (Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan Ketenagakerjaan Kementerian Ketenagakerjaan) bahkan mengatakan bahwa melindungi pekerja yang sudah berkerja dan membuat kesempatan bagi angkatan kerja baru merupakan 2 hal dari 4 hal yang menjadi langkah optimalisasi dalam memanfaatkan bonus demografi yang akan terjadi di negeri ini.

Namun benarkah mesin mesin itu akan menggantikan pekerjaan manusia? Beberapa peneliti mencoba menjawab pertanyaan ini. Basu, Fernald dan Kimball menemukan bahwa pekerjaan menurun dalam jangka pendek adalah sebuah respon dari lonjakan produktivitas, namun perkerjaan itu akan tumbuh kembali dalam jangka waktu menengah dan panjang. Hal ini didasari dengan  input tenaga kerja dan investasi turun setelah guncangan teknologi meningkatkan produktivitas namun dengan cepat mengembalikan penggunaan tenaga kerja secara normal dengan peningkatan output yang dihasilkan. Chen, Rezai dan Semmler memeriksa pengangguran dan menemukan bukti bahwa dalam jangka pendek, produktivitas dan pengangguran berkorelasi positif. Namun, dalam jangka menengah dan panjang, mereka menemukan bahwa pertumbuhan produktivitas sangat berkorelasi negatif dengan pengangguran. Hal tersebut seolah menunjukan bahwa, mesin mesin itu tidak serta merta menghapus pekerjaan manusia. Bahkan jika benar benar menggantikan perkerjaan yang dilakukan manusia, Para peneliti memperkirakan peluangnya adalah sebesar 50% bagi mesin untuk mampu mengambil alih semua pekerjaan manusia dalam waktu 120 tahun.

 

Screenshot (61)

Sumber: Youtube “How Smart is today’s artificial intelligence?”

 

Sebuah studi yang dilakukan McKinsey Global Institute, meneliti cara kerja dari 800 pekerjaan yang berbeda. Mereka mengelompokkan pekerjaan menjadi 7 kategori, dengan 3 diatara kelompok pekerjaan tersebut paling rawan untuk terjadinya otomatisasi dengan teknologi yang ada saat ini. Bagaimanapun, setiap pekerjaan memungkinkan terjadinya otomatisasi walau hanya sebagian. Namun, pekerjaan seperti mengatur seseorang yang membutuhkan kreatifitas, pengambilan keputusan serta pekerjaan yang membutuhkan perasaan emosional akan menjadi pekerjaan yang sulit terjadinya otomatisasi. Walaupun sejatinya kita tidak dapat memprediksi secara pasti seberapa cepat teknologi berkembang di masa depan.

Zaman semakin berkembang dan teknologi dibutuhkan di segala sektor kehidupan. Kita yang menciptakan mereka, menjadikan mereka sebuah alat yang tanpa disadari seolah menjadi bagian dari kita. Oleh karena itu, menjadi sebuah keharusan untuk kita agar dapat menguasai teknologi yang semakin berkembang ini. Lebih baik menguasi teknologi bukan? Dibandingkan jika suatu saat teknologi itu yang berbalik menguasai kita. Satu hal lagi yang menjadi catatan bahwa sebuah mesin mungkin mempelajari Algoritma dan mampu mengerti 37 bahasa, namun perlu kita ketahui bahwa fungsi dari sebuah benda sederhana seperti kursi pun belum tentu mereka ketahui. Jadi, jangan takut untuk bersaing walau dengan sebuah mesin sekalipun.

 

Oleh: Akbar Indria Wicaksono, Teknik Mesin 2017

Daftar Pustaka:

Kementrian Perindustrian Indonesia. “ Making Indonesia 4.0”

Firdaus Baderi. ”Jumlah Kantor dan Pegawai Bank Menurun – MARAKNYA SERBUAN TEKFIN”. http://www.neraca.co.id/article/92832/jumlah-kantor-dan-pegawai-bank-menurun-maraknya-serbuan-tekfin

Agustin Setyo Wardani. “2040, Robot Diprediksi Akan Curi Jenis Pekerjaan Ini”. http://tekno.liputan6.com/read/3191660/2040-robot-diprediksi-akan-curi-jenis-pekerjaan-ini

Nur Falikhah, 2015. Bonus Demografi, Peluang dan Tantangan bagi Indonesia.

Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi. “Mengoptimalkan Bonus Demografi”. Diakses dari https://ristekdikti.go.id/mengoptimalkan-bonus-demografi/

Ben Miller,and Robert D. Atkinson.2013.  ”Are Robots Taking Our  Jobs, or Making Them?”

Pu Chen, Armon Rezai, and Willi Semmler, “Productivity and Unemployment in the Short and Long Run” http://ideas.repec.org/p/epa/cepawp/2007-8.html

Richard Gray. Berapa lama lagi pekerjaan Anda akan digantikan oleh mesin? http://www.bbc.com/indonesia/vert-cap-40416753

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *